Pandemi Corona
Pandemi Corona
By : Mahganipatra
" Jangan lupa tutup pintu rumah dan pagarnya ya, jangan keluar jika tidak perlu." pesan paksu saat akan pergi bekerja dan aku mengantarnya sampai depan pintu. Yang ku jawab dengan anggukan kepala tanda setuju.
Sejak marak pemberitaan tentang pandemi wabah covid 19 di media daring dan medsos baik di grup-grup WA atau FB serta yang lainnya, protectif kesehatan yang diperintahkan paksu sebagai kepala keluarga meningkat dan
nyaris seluruh aktivitas di luar rumah terhenti. Seluruh keperluan rumah dipenuhi sebagai bentuk tanggung jawabnya melindungi keluarga agar ikhtiar kami menangkal virus covid 19 dapat maksimal dilaksanakan.
Jika ditanya "apakah bosan?"
Tentu saja, rasa bosan itu hampir menjangkiti seluruh keluarga.
Si Teteh yang dipulangkan dari pondok kadang mengeluh ingin keluar jalan-jalan. Si bungsu tak kalah bosan juga. Kadang merengek minta keluar dan diajak aktivitas, bahkan salah satu protesnya adalah mogok tak mau mengerjakan tugas-tugas sekolah online.
Tentu, tugasku sebagai manager rumah tangga sekaligus ibu juga dituntut harus lebih maksimal. Memberi mereka pengertian, baik dalam bentuk edukasi serta menghiburnya dalam bentuk jaminan keamanan dan kenyamanan yang dibutuhkan. Ini adalah upaya yang harus dilakukan agar aktivitas social distancing dan fishical distancing yang kami lakukan dapat sukses berjalan sehingga ikhtiar kami benar-benar berjalan sesuai dengan pemahaman yang kami miliki.
Sampai akhirnya, dengan terus menerus diberikan edukasi tentang pentingnya social distancing ditambah kenyamanan dan keamanan yang kami fasilitasi membuat mereka menyadari pentingnys social distancing. Semata-mata untuk kepentingan pencegahan terpaparnya virus Covid 19 dan bentuk ketaatan terhadap syariat yang telah diajarkan oleh rosululloh saw serta seruan dari pemerintah.
Jika kemudian di beberapa daerah di vonis sebagai "red zone" akibat beberapa oknum yang ngeyel. Karena mereka tidak menyadari sikap mereka memyebabkan mereka menjadi carier virus Covid 19 disebabkan pemahaman mereka yang telah menganggap enteng persoalan Covid 19 ini sebagai penyakit yang tidak berbahaya layaknya penyakit flu biasa. Maka kesalahan terletak pada kurangnya edukasi di masyarakat.
Demikian pula saat sebagian masyarakat memiliki pemahaman bahwa ketika mencoba menghindari penyakit Covid 19 dengan upaya menutup seluruh akses aktivitas dengan social distancing, menganggap sebagai bentuk dari "kurang keyakinan terhadap qodho dan qadar terhadap Allah Swt. "
Maka cukuplah kira sampaikan bagaimana penyikapan sahabat mulia khalifah Umar ibnu Khathab. Keimanan yang kuat ditunjukkan oleh Khalifah Umar bin Khathab dengan para sahabatnya tatkala menghadapi wabah, mereka langsung meyakini bahwa semua terjadi karena kekuasaan Allah SWT.
Dan ketika sudah menimpa manusia maka termasuk takdir Allah yang harus disikapi dengan penuh keimanan dan qanaah dalam menerimanya.
Hal ini Nampak jelas dalam perbincangan antara Abu ‘Ubaidah bin Jarrah yang bertanya kepada khalifah Umar: “Apakah kita hendak lari dari takdir Allah?” Umar menjawab: “Ya, kita lari dari takdir Allah kepada takdir Allah yang lain.”
Hal ini bisa jadi disebabkan karena pemahaman terhadap qodho dan qadar yang menghasilkan perbedaan persepsi terhadap qodho dan qadar tersebut.
Kekeliruan dalam bersikap terhadap sebuah hukum syara pada saat menetapkan dan mengambil hukum dari sumber yang berbeda. Sehingga menghasilkan sikap yang justru menjauhkan kita dari hukum syara.
dalam menetapkan dan mengambil hukum dari sumber yang berbeda. Sehingga menghasilkan sikap yang berbeda.
Komentar
Posting Komentar